First impression matters. Di artikel sebelumnya saya sempat menyinggung sedikit tentang first impression yang penting dimiliki oleh seorang kandidat. First impression ternyata sangat kuat dan penting untuk membangun image diri kita di mata orang lain. Umumnya first impression terbentuk dari sekitar 60 detik pertama saat kita bertemu pertama kali dengan orang lain, bahkan dalam beberapa studi disebutkan kurang dari 30 detik. Secara tidak sadar (atau sadar?), kita akan menilai apakah kita suka, percaya, atau bisa bekerja bersama seseorang dalam rentang waktu yang singkat tersebut.
Secara natural, kita lebih suka berada bersama orang yang percaya diri. Karena itu penting untuk melatih diri kita menjadi lebih percaya diri. Selain itu, kita juga selalu menilai seberapa menarik seseorang saat pertama kali bertemu, yang mana bisa kita rasakan dari tanda-tanda verbal maupun non-verbal seperti bahasa tubuh atau penampilan kita. Vanessa Van Edwards, penulis buku “Captivate: The Science of Succeeding with People” menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan untuk dapat meninggalkan first impression yang baik.
Bahasa tubuh kita akan menunjukkan tingkat kepercayaan diri kita. Orang dengan tingkat percaya diri yang tinggi akan menujukkan postur yang tegap dan membusungkan dada. Mereka lebih fokus dan aktif baik itu dalam berbicara ataupun mendengarkan. Ketika kita cemas atau grogi, kita cenderung akan menunjukkan perilaku yang bertujuan untuk menenangkan diri kita, seperti memainkan cincin atau jam, mengusap-usap tangan kita, atau menyilangkan tangan di dada. Perilaku tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan diri kita yang rendah.
Cobalah untuk jaga postur dengan berdiri tegap, membusungkan dada, dan sedikit angkat kepalamu. Dengan postur tersebut, kalian akan merasakan tambahan kepercayaan diri. Selain itu, arahkan tubuh ke lawan bicara dan jaga eye contact. Saat kita melakukan hal itu, lawan bicara kita akan merasa lebih dihargai dan akan melihat kita lebih “terlibat” dalam komunikasi. Vanessa Van Edwards juga menyampaikan cara bersalaman yang baik, yaitu dengan memastikan telapak tangan bertemu dengan telapak tangan, posisi tangan vertikal, jangan guncang terlalu hebat, genggam dengan kekuatan yang wajar, dan selalu pastikan tangan kalian kering.
Suara dan intonasi juga merupakan hal penting untuk diperhatikan. Kita bisa mendengar seberapa percaya diri seseorang ketika dia berbicara. Kita juga bisa “mendengar” seseorang ketika dia bersemangat, sedih, atau marah dari suara mereka, yang paling mudah adalah melalui telepon. Kadang kita bisa “mendengar” jika lawan bicara kita di telepon merasa bosan atau jengkel atau kesal, dan begitu juga jika lawan bicara kita saat sedang gembira atau bersemangat. Jadi, selalu angkat telepon anda dengan senyum yang tulus.
Kalimat pembuka yang paling efektif ketika bertemu dengan orang baru adalah yang langsung dan sederhana. Kalian bisa mencoba kalimat pembuka yang sederhana seperti “Halo, nama saya Mario. Senang bisa bertemu dengan Anda.”. Atau jika kalian berada di acara gathering perusahaan, atau acara networking, kalian juga bisa menggunakan kalimat pembuka yang lebih “jujur” dan simple seperti: “Halo, saya belum kenal orang-orang di sini. Nama saya Mario, boleh saya tahu nama Anda?”.
Hindari menggunakan kalimat pembuka yang terlalu sering digunakan atau pertanyaan basa-basi seperti “Halo, apa kabar?” atau “Halo, Anda kerja dimana?”. Cobalah menggunakan kalimat pembuka dengan pertanyaan yang lebih membuat lawan bicara kalian berpikir hal yang menarik atau menyenangkan, seperti “Ada rencana liburan kemana dalam waktu dekat?” atau “Lagi nonton series apa yang seru di Netflix?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menggali pengalaman positif dari lawan bicara kalian, sehingga akan lebih berkesan.
Dengan melatih diri kita menjadi lebih percaya diri dan menarik, tentunya kita bisa berinteraksi dengan orang lain lebih mudah dan bisa meninggalkan first impression yang lebih baik juga. Semoga tips ini berguna juga buat kalian ya.