Pagi ini saya bertemu dengan seorang kandidat yang secara pengalaman bisa dibilang ada di level senior management. Beliau cukup straight forward. Satu kualitas yang saya suka dari seorang kandidat. Apalagi kalau mereka yang berinisiatif untuk meeting ini.
“Pagi ini saya baru terima surat bonus Pak. Terus terang saya tidak terlalu happy dengan angkanya.” Demikian beliau memulai. Seperti biasa ini adalah waktu waktu dimana perusahaan memberikan bonus tahunan. Dimulai dari bulan Januari sampai dengan bulan Juni walaupun yang paling umum adalah sekitar Maret dan April.
“Biasanya saya terima 6 bulan gaji Pak. Setiap tahun saya selalu alokasikan untuk beli apartemen atau beli mobil. Saya tersenyum. Kandidat ini benar benar terbuka dengan saya. Tapi tahun ini tidak cukup untuk beli apa apa.” Lanjut beliau tetap denga gaya yang sangat terbuka dan jujur. “Saya sudah ditempat sekarang bekerja selama 5 tahun. Belum pernah saya mendapatkan bonus serendah ini. Mungkin ini sinyal dari direksi untuk saya mengundurkan diri.”
“Berapa pencapaian penjualan anda untuk tahun ini?” saya mulai buka mulut.
“Pencapaian divisi maksudnya Pak?”
“Bukan maksud saya pencapaian individu anda?”
“Wah di tempat kami tidak pernah diukur Pak. Biasanya lebih ke pencapaian divisi. Tapi saya lupa persis angkanya.” Saya mulai mengernyitkan alis. “Bagaimana dengan pencapaian 2017?” Tanya saya lagi.
“Saya juga lupa angkanya Pak.” Sampai sini saya sudah mulai gemas. “Anda punya Key Peformance Indicators kah?”
“Tidak ada Pak. Kami ini anak perusahaan dari satu group raksasa. Perusahaan baru berjalan 5 tahun. Saya sendiri memulai divisi ini dari nol dan saya langsung report ke salah satu Direktur. Selama ini bonus saya dari tahun ke tahun selalu naik.
“Berapa persentase kenaikan gaji anda dalam 2 tahun terakhir?” tanya saya lagi.
“Setiap tahunnya hanya sekitar 3-5% Pak”. Saya menghitung cepat dan memang ada penurunan dari bonus walaupun base salary tahun ini sebagai pengali sudah naik. Saya melanjutkan interview dengan beberapa pertanyaan lain yang dijawab dengan sukarela oleh si kandidat.
Terungkap bahwa dalam beberapa tahun terakhir perusahaan tidak terlalu focus dengan penambahan orang orang sales. Mereka bahkan tidak mengganti orang orang sales yang pergi karena mayoritas bisnis datang dari parent company. Bisa dibilang sales disana sudah cukup sibuk dengan bisnis dari grup sendiri. Ini salah satu sebabnya. Teman baru saya ini kebetulan terlambat menyadarinya.
“Begini, untuk saat ini kebetulan kita belum ada posisi yang sesuai dengan aspirasi anda. Saya sarankan anda jangan membuat keputusan drastis dalam keadaan emosional seperti sekarang. Lebih baik anda bertahan dan pelan pelan mencari. Kalau anda mencari pekerjaan disaat anda sendiri tidak bekerja posisi tawar anda akan menjadi lemah.” Lanjut saya.
“Tapi buat saya itu suatu sinyal kalau saya tidak diinginkan lagi disitu.” Balas si kandidat setengah emosi.
“Betul. Anda bisa memilih untuk bernegosiasi dengan boss anda. Atau anda bisa memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan sementara anda mencari pekerjaan baru. Saran saya coba pergi cuti beberapa hari supaya bisa cooling down.” Nasihat saya dengan sabar seperti menasihati anak sendiri. “Kami akan kabarkan kalau ada posisi yang menarik untuk anda”
“Baik Pak terima Kasih banyak sekali untuk waktunya. Muda mudahan saya bisa menjadi portfolio di perusahaan Bapak.” Jawab si kandidat setengah berharap.”
“Kita usahakan.” Jawab saya. “Sebagai seorang sales tapi anda harus lebih proaktif dalam manajemen prestasi anda. Saya terus terang agak kaget karena anda tidak ingat berapa revenue perusahaan dan berapa pencapaian sales anda. Sebagai seorang frontliner, maaf, ini bisa diinterpretasikan kalau anda tidak terlalu peduli akan pertumbuhan perusahaan dan pencapaian anda sendiri. Apalagi anda sebagai senior sales disini. Bagaimana juga anda akan negosiasi untuk kompensasi yang lebih baik kalau anda tidak mendokumentasikan pencapaian anda?”
Sekelumit cerita diatas adalah gambaran umum situasi dimana seorang professional lupa untuk mengelola prestasinya. Mengapa itu penting? Karena masih banyak perusahaan besar yang dikelola dengan manajemen warung kecil dimana yang mereka pikirkan hanya profit, pangsa pasar dan ukuran ukuran angka lainnya. Mereka melihat karyawan sebagai …. ya karyawan. Bukan sebagai mitra bisnis perusahaan yang harus dikelola dengan baik. Dari cerita diatas perusahaan ini juga tidak mempunyai manajemen SDM yang baik. Mereka tidak punya key performance indicators yang jelas. Si kandidat sendiri terlena dengan bonus yang dia terima selama ini sampai ia sendiri tidak tahu apakah angka yang dia terima setiap tahun itu merefleksikan sesuatu dari prestasi kerjanya. Bisa dipastikan beberapa tahun kemarin mereka mempunyai bisnis yang baik dan dia berasumsi akan terus seperti itu.
Seorang professional tidak bisa berharap kepada perusahaan untuk mengelola prestasi mereka. Apalagi apabila anda berada di posisi sales atau business development atau posisi front line. Anda harus proaktif mengelola manajemen prestasi anda dengan menset KPI dan bonus yang bisa anda harapkan apabila anda berhasil. Karena anda adalah revenue generator perusahaan. Seharusnya perusahaan bergantung pada anda. Memang ini bukan sesuatu yang nyaman karena berarti anda harus berani bertanggung jawab juga atas kegagalan anda mencapai target. Tapi itulah bisnis. Dengan keberanian anda mengelola manajemen prestasi anda sendiri apapun hasilnya anda telah naik setingkat menjadi mitra bisnis perusahaan. Bisa dipastikan kalau anda mengelola manajemen prestasi anda dengan baik direksi atau pemegang saham akan berdiskusi dulu dengan anda sebelum mereka mengirimkan surat bonus anda dalam amplop. Tidak ada perusahaan yang mau kehilangan ‘top producer’ nya. Apalagi mereka yang mengelola prestasinya dengan baik.